


Salah satu pertanyaan yang paling sering aku dapet dari sesama siswa IT adalah: "belajar apa dulu buat freelance?" Dan jawabannya nggak sesimple itu karena stack yang tepat tergantung dari klien yang kamu hadapi.
Aku udah 3 tahun jalan di dunia web developer, dan sampai sekarang aku pakai tiga stack utama: WordPress, Next.js, dan Laravel. Bukan berarti aku pakai semua sekaligus di satu project, tapi masing-masing punya tempatnya sendiri. Di artikel ini aku mau breakdown kapan pakai yang mana, dari pengalaman langsung.
WordPress masih jadi andalan aku untuk klien yang punya budget terbatas tapi butuh website yang bisa mereka kelola sendiri tanpa harus ngerti coding. Dengan page builder seperti Elementor atau Gutenberg, klien bisa update konten, tambah blog, atau ganti foto produk tanpa harus hubungi aku setiap saat. Ini value yang besar buat mereka.
Aku pakai ini di Klien dengan budget rendah, butuh website company profile atau toko online sederhana, dan ingin bisa kelola kontennya sendiri.
Kebanyakan klien aku sekarang pakai Next.js, karena mereka mulai sadar bahwa website yang lambat itu langsung berdampak ke bisnis. Next.js dengan fitur SSR dan SSG-nya kasih performa yang jauh lebih baik, plus SEO yang lebih optimal secara teknikal. Deploy di Vercel juga sangat smooth. Kalau klien minta website yang fleksibel dari segi fitur dan nggak mau terikat sama plugin, ini pilihan utama aku.
Aku pakai ini di Klien yang ingin website dengan loading cepat, SEO yang baik, dan fleksibilitas fitur. biasanya bisnis yang udah lebih serius soal digital presence-nya.
Laravel aku pakai kalau project-nya butuh lebih dari sekadar website — misalnya sistem manajemen internal, admin panel custom, atau aplikasi web dengan logika bisnis yang kompleks. Laravel punya struktur yang rapi dan ekosistem yang mature, jadi cocok banget untuk project jangka panjang yang butuh maintenance berkelanjutan.
Aku pakai ini di Klien yang butuh sistem admin panel, manajemen user, atau fitur-fitur yang lebih dari sekadar website biasa.